Di India, ada sebuah dongeng yang menceritakan bahwa pria pertama didunia menghadap Dewa pencipta dan meminta agar baginya diciptakan teman hidup yang sepadan yaitu wanita. Ketika permhonannya dikabulkan, ia malah meminta agar Dewa pencipta menarik kembali wanita yang setelah sekian lama menjadi teman hidupnya itu. Pria ini berkata “Dewa, aku meminta kepadamu teman yang sepadan. Bukan teman yang suka menangis ketika ada masalah. Yang suka memandang bunga berlama-lama dan mengoceh tentang bunga itu sepanjang hari. Aku lelah dibuatnya. Tariklah kembali wanita itu.” Sekali lagi permintannya dikabulkan. Namun setelah beberapa hari, pria itu datang kembali menghadap Dewa pencipta dan berkata dengan wajah menderita, “Dewa, kembalikan wanita itu kepadaku. Hidupku sepi tanpanya. Ternyata aku sangat merindukan ocehannya dan memerlukan tangisannya agar aku bisa berhati-hati dalam mengambil langkah”
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa jalan pikiran pria dan wanita memang diciptakan berbeda. Artikel suatu majalah yang saya baca mengatakan bahwa, menurut hasil penelitian ilmiah, pola pikir pria dan wanita memang berbeda. Sedangkan seperti yang kita tahu bahwa pola pikir jelas berhubungan dengan tingkah laku dan kemampuan bertindak seseorang. Dijelaskan pula bahwa salah satu penyebab perbedaan tersebut adalah keinginan untuk mengendalikan orang lain. Masalahnya, justru saat kita berusaha mengendalikan orang lain, saat itulah kita akan mendapat berjuta masalah, karena kita pasti gagal. Mengapa? Karena tindakan yang menjurus kepada mengendalikan orang lain adalah tindakan yang koersif (bossy) dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Jadi daripada mempermasalahkan perbedaan, akan jauh lebih efisien bila kita fokus kepada bagaimana caranya membangun sebuah kesepakatan bersama dalam suatu hubungan antara pria dan wanita dewasa, yang memang diciptakan berbeda.
Potongan tulisan di atas saya persembahkan untuk para wanita yang cukup sering bertengkar bersama pasangannya, semoga bisa jadi inspirasi. Saya rasa memang pria itu makhluk yang menyebalkan dan addicting pada saat bersamaan. Jadi ya terima sajalah. Contohnya saya (yeee curcol), saya inginnya begini, dia inginnya begitu. Terkadang ada hari dimana saya sudah merasa muak dan berkata “I’m done with this! Aaaaa... ga tahan lg gw!” namun pada kenyataannya kami akan kembali berbaikan. Bertengkar-berbaikan-bertengkar-berbaikan. Proses iterasi tiada henti.
Dulu saya sering sekali marah pada pasangan saya, saya bersikap seperti itu karena jauh didalam hati, saya tahu bahwa saya aman bersamanya. Disaat saya bersikap buruk sekalipun saya percaya dia selalu ada untuk saya. Pelajaran yang saya dapatkan, ketika kita bertengkar bersama orang yang tulus kita sayangi, kita bisa saling menyakiti perasaan masing-masing, tapi perasaan cinta itu tidak akan pudar seperti yang mungkin terjadi pada kecengan atau sahabat palsu. Perasaan nyaman seperti ini -yang membuat kita bisa menunjukkan setiap emosi, bahkan yang paling negatif sekalipun- yang membuat cinta diantara suatu pasangan menjadi utuh indah dan unik.